Minggu, 08 Januari 2012

makalah alat peraga dalam pembelajaran matematika


BAB I
PENDAHULUAN

Banyak orang memandang bahwa matematika itu adalah pelajaran yang sulit, meyeramkan, bahkan ada beberapa anak yang tidak suka sama sekali dengan matematika. Tetapi mau tidak mau anak-anak harus mempelajarinya karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah sehari-hari, seperti membaca dan menulis. Kesulitan mempelajari matematika harus diatasi sejak dini, kalau tidak akan menghadapi banyak masalah di kemudian hari.
Disini lah kita para pengajar di perlukan gagasan yang baru, gebrakan baru serta konsep-konsep baru bagaimana cara mengenalkan matematika kepada siswa tanpa memberikan kesan matematika itu meyeramkan, justru kita harus memberikan kesan matematika itu menarik, matematika itu adalah permainan, matematika itu meyenangkan. Sekarang sudah jamannya menggunakan matematika modern, dimana matematika modern lebih menekankan pada pemahaman siswa pada sistem bilangan dari pada mempelajari hafalan rumus-rumus. Pengajaran matematika modern bertujuan untuk mempermudah siswa belajar berhitung, bukan sebaliknya. Jika dulu orang tua kita mendapat kesulitan dalam mempelajarinya, apakah hal itu juga berlaku pada siswa sekarang? Dahulu di SD di beri tahu bahwa luas bola adalah 4 x 3,14 x r2, sekarang dalam matematika modern siswa diminta menemukan sendiri rumus tersebut melalui bimbingan guru, cara baru itu bukan untuk menyulitkan tetapi justru untuk menumbuhkan keaktifan siswa.




BAB II
Peranan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika
Kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilaksanakan setiap hari, merupakan rutinitas sehari-hari di dalam kelas, dimana guru dan peserta didik saling bertemu dan melakukan belajar mengajar. Keberhasilan dalam mengajar tersebut adalah tanggung jawab guru, oleh karena itu jika ada salah seorang peserta didik yang tidak mampu menguasai salah satu mata pelajaraan maka seorang guru dianggap gagal dalam melaksanakan tugasnya.
Kita sadari bersama bahwa mata pelajaraan matematika merupakan salah satu mata pelajaraan yang kurang di sukai oleh siswa. Hal ini sangat disadari oleh guru. Namun dengan demikian kita sebagai guru harus memperkenalkan matematika kepada siswa dengan memberi kesan bahwa matematika itu adalah pelajaran yang meyenangkan. Dengan cara apa kita para guru memperkenalkan matematika dengan tidak memberikan kesan yang meyeramkan ? inilah salah satu contoh, dengan cara dalam pembelajaran matematika kita menggunakan media alat peraga. 
Alat peraga matematika dapat diartikan sebagai suatu  benda konkrit yang dirancang, dibuat, atau disusun yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika. Dengan alat peraga hal-hal yang abstrak itu dapat disajikan dalam bentuk konkrit/nyata yang dapat dilihat, dipegang sehingga mudah difahami.
Proses pembelajaran akan menarik bila dalam mengajar  menggunakan alat peraga. Menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran adalah salah satu cara untuk mengenalkan siswa kepada matematika. Penggunaan alat peraga sangat berperan dalam penyampaian materi pelajaran bagi pendidik. Dengan harapan alat peraga akan memperjelas tentang materi yang disampaikan atau diajarkan. Dalam  KBBI, (1993:20 ) mendefinisikan bahwa alat peraga merupakan alat bantu mendidik dan mengajarkan siswa agar apa yang diajarkan mudah dimengerti oleh siswa.
Dengan alat bantu seperti alat peraga ini memudahkan siswa untuk belajar menghitung dengan menggunakan benda kongkrit. Misalnya untuk menjelaskan 3 buah mangga kita dapat menunjukkan  kepada siswa 3 buah gambar  mangga. Jadi siswa tidak hanya membayangkan seperti apa buah mangga itu, tetapi siswa dapat melihat langsung bagaimana bentuk dari buah mangga itu.
A.  Landasan  Penggunaan Alat  Peraga
Mengapa diperlukan alat peraga dalam pembelajaran matematika di SD ?
Ada beberapa alasan mengapa dalam pembelajaran matematika di SD:
1) Siswa pada usia anak SD belum bisa mengerti apa yang diajarkan oleh pendidik yang sifatnya abstrak. Jadi siswa SD perlu adanya pembelajaran yang sifatnya kongkrit.
2) Menurut teori dari Brunner, anak akan belajar dengan baik jika  melalui 3 tahap, yakni :
       Tahap enaktif  merupakan tahap pengalaman langsung dimana anak berhubungan dengan benda –benda nyata /sesungguhnya.   Tahap ikonik berkaitan dengan gambar,  lukisan,foto atau film, sedangkan tahap simbolik merupakan tahap pengalaman abstrak. Jadi pada tahap enaktif siswa harus menggunakan benda nyata dalam memulai belajar matematika Benda yang diangap kongkrit dalam matematika adalah alat peraga tersebut. [1]
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru harus mampu menjelaskankepada siswanya. Usaha ini dapat di bantu dengan alat peraga matematika, karena dengan bantuan alat-alat tersebut, yang sesuai dengan topik yang di ajarkan, konsep akan dapat lebih mudah di pahami dengan jelas.
Salah satu peranan alat peraga dalam matematika adalah siswa dapat memahami ide-ide dasar yang melandasi sebuah konsep, mengetahui cara membuktikan suatu rumus atau teorema, dan dapat menarik suatu kesimpulan dari hasil pengamatannya.
Setelah siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran  dengan bantuan alat peraga, maka di harapkan akan tumbuh minat belajar matematika dalam dirinya. Dan akan menyenangi pelajaran matematika, karena sesuai dengan umurnya, yang masih menyenangi permainan.
Selain itu, pengajaran dengan menggunakan alat peraga akan dapat memperbesar perhatian siswa terhadap pengajaran yang dilangsungkan, karena mereka terlibat dengan aktiv dalam pengajaran yang dilaksanakan. Dengan bantuan alat paraga konsentrasi belajar dapat lebih ditingkatkan.
Dengan bantuan alat peraga matematika, siswa akan semakin mudah memahami hubungan antara matematika dan lingkungan alam sekitar. Siswa akan semakin mudah memahami kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan, dengan adanya kesadaran seperti ini, mereka terdorong untuk mempelajari matematika lebih lanjut. Misalnya dengan penggunaan alat peraga dalam penjelasan konsep ruang berdimensi tiga, siswa akan semakin terlatih daya tilik ruangnya, sehingga pada akhirnya mampu menemukan atau menyadari hubungan antara matematika dengan lingkungan sekitar.

B.  Fungsi Alat Peraga
. Dalam proses pembelajaran alat peraga berfungsi
  • Memberi selingan dengan  humor untuk memperkuat minat siswa belajar.
  • menghibur siswa agar pembelajaran tidak membosankan.
  • memfokuskan perhatian siswa pada materi pelajaran secara kongkrit.
  • melibatkan siswa dalam proses belajar sebagai  pengalaman nyata.
  • Meningkatkan motivasi siswa belajar karena peraga dapat merangsang tumbuhnya perhatian serta mengembangkan keterampilan
  • Alat peraga membuat siswa menjadi lebih aktif berpikir dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis karena siswa tidak sekedar mengingat dan mendengarkan, namun mengembangkan pikirannya dengan fakta
  • Alat peraga lebih meningkatkan interaksi antar siswa dalam kelas sehingga belajar dapat berkembang dinamis
  • Penggunaan alat peraga memenuhi kebutuhan belajar sesuai gaya belajar siswa dalam satu kelas.
Sebagaimana kita ketahui bahwa terdapat beberapa tipe siswa berdasarkan cara mereka memahami sesuatu. Masing-masing siswa memiliki kecenderungan untuk memakai salah satu indera mereka dalam belajar sehingga memerlukan cara pengajaran yang berbeda. Namun demikian, guru harus mampu untuk menggabungkan beragam metode pengajaran agar dapat memenuhi kebutuhan seluruh siswanya dalam belajar.
Levie & Lentz (dalam Azhar Arsyad), mengemukakan terdapat empat fungsi media  pembelajaran menggunakan alat peraga,  khususnya media visual , yaitu (a) fungsi atensi,
(b) fungsi afektif, (c) fingsi kognitif, (d) fungsi kompensatoris.
      a. Fungsi atensi, media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran.  Seringkali pada awal pelajaran siswa tidak tertarik dengan materi pelajaran yang tidak disenangi sehingga mereka tidak memperhatikan .
  1. Fungsi afektif, media dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat mengubah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi menyangkut masalah sosial.
      c. Fungsi kognitif, media dapat terlhat dari temuan-temuan penelitian yang menggunakan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
  1. Fungsi kompensatoris, media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca atau mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.[2]

C.   Syarat dan Kriteria Media Alat Peraga

Perlu kemahiran yang terlatih dalam menggunakan alat peraga metematika. Guru harus bisa menguasai dan menentukan alat peraga apa yang tepat untuk sebuah topik tertentu , kerena tidak semua topik dapat di jelaskan dengan alat peraga, dan tidak semua alat peraga mampu memperjelas sebuah topik.
Jika alat peraga yang digunakan tanpa memperhatikan karakteristik alat peraga itu sendiri, maka hasil pengajaran akan jauh dari sasaran. Apabila hal ini sampai terjadi, berarti penggunaan alat peraga mengalami kegagalan.
Tujuan utama penggunaan alat peraga adalah agar siswa dapat memahami konsep-konsep atau ide-ide dalam matematika yang sifatnya abstrak , dipahami dan dicapai oleh penalaran siswa. Pada usia anak sekolah dasar (SD) masih memerlukan  bantuan alat yang sifatnya nyata, terlihat dengan jelas, dalam menangkap ide atau konsep yang diajarkan. Misalnya untuk menjelaskan penjumlahan 4 + 5 pada siswa sekolah dasar (SD) guru harus menunjukkan gambar gabungan benda (misalnya mobil, bunga, atau yang lainnya).
Dibawah ini adalah syarat untuk membuat alat peraga, yaitu :
  • Tahan Lama
  • Bentuk dan warnanya menarik
  • Sederhana dan mudah dimainkan
  • Ukurannya sesuai, tidak terlalu besar atau terlalu kecil untuk anak
  • Dapat menyajikan konsep matematika baik dalam bentuk nyata, gambar, atau diagram
  • Sesuai dengan konsep matematika

Kriteria menggunakan alat peraga sangat bergantung pada :
Tujuan
Pemilihan alat peraga dapat mempengaruhi tujuan pengajaran yang akan dicapai apakah alat peraga tersebut mampu meningkatkan pemahaman siswa tentang mata pelajaran matematika yang merupakan tujuan dari sebuah pembelajaran.
Materi Pelajaran
Alat peraga biasanya dipakai untuk membantu siswa dalam memahami sebuah konsep dasar dalam materi pembelajaran matematika sehingga memudahkan siswa dalam pemahaman materi dalam ruang lingkup dan kesukaran yang lebih tinggi. Peragaan untuk konsep dasar digunakan untuk mempermudah konsep selanjutnya.
Strategi Belajar Mengajar
Dengan menggunakan alat peraga maka akan mempermudah guru menerapkan konsep pembelajaran di dalam mengajar. Pengunaan alat peraga merupakan cara pengajaran dalam metode penemuan ataupun permainan.
Kondisi
Media alat peraga membantu guru pada kondisi-kondisi tertentu misalnya saja pada kondisi kelas yang penuh dengan siswa sehingga diperlukan pengeras suara untuk mempermudah guru agar dapat didengar oleh siswanya saat menjelaskan materi.
Siswa
Pemilihan alat peraga disesuaikan dengan apa yang disukai oleh anak misalnya saja alat peraga yang berupa permainan namun hal tersebut tentunya tidak keluar dari tujuan pembelajaran.
D.  Jenis – Jenis Alat Peraga
Ada beragam jenis alat peraga pembelajaran, dari mulai  benda aslinya, tiruannya, yang sederhana sampai yang canggih, diberikan dalam kelas atau di luar kelas. Adapun contoh alat peraga yang dapat digunakan dalam mengajar yaitu Gambar, suatu bentuk alat peraga yang nampaknya paling dikenal dan sering dipakai, karena gambar disenangi oleh anak berbagai umur, diperoleh dalam keadaan siap pakai, dan tidak menyita waktu persiapan yang banyak. Dan sekarang juga kemampuan teknologi telah mengubah harimau yang ganas yang tidak mungkin di bawa dalam kelas bisa tampil di dalam kelas dalam habitat kehidupan yang sesungguhnya.
Alat peraga pembelajaran sederhana dapat dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti karton, kardus, styrofoam, dan juga bisa memanfaatkan software-software komputer yang dapat menciptakan alat peraga. Jika guru belum memiliki kemampuan untuk menciptakan alat peraga berbasis TIK maka guru dapat memanfaatkan hasil alat peraga yang telah diciptakan oleh rekan-rekan seprofesi yang lain. Temukanlah kemampuan pencarian informasi melalui internet, maka guru akan mendapatkan beragam alat peraga pembelajaran berbasis TIK yang bisa dipergunakan secara cuma-cuma.
Untuk membuat sebuah alat peraga tidak harus mengeluarkan biaya yang mahal. Dengan kita memanfaatkan benda-benda di sekeliling kita, sudah bisa menghasilkan sebuah alat peraga yang murah dan menarik. Dibawah ini adalah beberapa contoh alat peraga yang digunakan di dalam ruangan kelas, yaitu :

·         Alat peraga yang dibuat para guru bermacam-macam. Kertas yang dipotong digunakan untuk membuat bangun tiga dimensi. Ada segitiga, kubus, jajaran genjang, dan bujur sangkar.
·         Potongan stereofoam lebih banyak lagi fungsinya. Ada yang digunakan untuk membuat muka jam dan jarum penunjuknya. Stereofoam yang berbentuk lembaran juga dimanfaatkan untuk membuat berbagai bentuk mainan, mainan-mainan itu digunakan untuk berhitung.
·         Sedotan juga bisa digunakan untuk membuat alat peraga. Dirangkai dengan kawat atau benang, maka sedotan bisa untuk menjelaskan sisi sebuah bangun datar. Juga bisa digunakan untuk jarum jam dan lidi hitung.
·         Tangga garis Bilangan
Tangga garis bilangan merupakan alat peraga dan sekaligus merupakan alat permainan bagi siswa. Alat peraga ini manfaatnya adalah untuk menjelaskan konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.
Contoh  -3 + 5 = …….
-7
-6
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
Jadi, kita berangkat dari -3 dan melompat sebanyak 5 kali ke arah kanan. Jadi hasilnya adalah 2. Begitu juga untuk pengurangan, tetapi untuk pengurangan, dia melompat ke kiri sebanyak jumlah yang ditentukan.
Contoh : -2 – 3 = ……
-7
-6
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
Jadi, hasilnya adalah -5.
Masih banyak alat-alat peraga matematika yang sudah diuji keakuratannya, antara lain Neraca bilangan, Papan Fanel, Abacus, Roda Meteran, Mata Uang Logam, Paku Payung, Dadu Bermata dan masih banyak  lagi.
E.  Keuntungan dan Kerugian dalam Penggunaan Alat Peraga

Dalam suatu metode pasti ada keuntungannya  dan ada pula kelemahannya , di bawah ini akan diuraikan sisi keuntungan dan kerugiannya menggunakan alat peraga dalam pembelajaran.


Keuntungan:

·         pengalaman langsung
·         membangkitkan minat siswa untuk menyelidiki
·         melatih seni hidup bersama
·         menciptakan kepribadian bagi guru maupun siswa
·         membuat siswa menjadi aktif
·         merangsang siswa untuk kreatif

kegagalan penggunaan alat peraga

Menurut Ruseffendi (dalam Pijiati, 2009a) penggunaan alat peraga tidak selamanya membuahkan hasil belajar yang lebih meningkat , lebih menarik dan sebagainya. Adakalanya meyebabkan hal yang sebaliknya, yaitu meyebabkan kegagalan peserta didik dalam belajar. Kegagalan itu akan tampak bila :

·         generalisasi konsep abstrak dari reprentasi hal-hal yang kongkrit tidak tercapai
·         alat peraga yang digunakan hanya sekedar sajian yang tidak memiliki nilai-nilai yang tidak menunjang konsep-konsep dalam matematika
·         tidak disajikan pada saat yang tepat
·         memboroskan waktu
·         diberikan pada anak yang sebenarnya tidak memerlukannya, dan
·         tidak menarik dan mempersulit konsep yang dipelajari.

F.  Daftar Puataka

Azhar, Arsyad. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
Oemar, Hamalik.2003. Proses Belajar mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Nana, Sudjana dan Ahmad ,Rivai.2002. Media Pengajaran. Bandung : Sinar Baru.
Riyanto, Heru.2004. Cara Cepat Menyelesaikan Perkalian. Jakarta : Puspa Swara.
A.Judith, Muschla dan Robert, Gary. 2009. Tugas-Tugas Matematika dengan Aplikasi Kehidupan Nyata. Jakarta : PT Indeks.
Djoko, Iswaji. 2003 .Pengembangan Media Pembelajaran Matematika di SLTP. Yogyakarta: FMPA UNY.

















[1] Oemar Hamalik.2003. Proses Belajar mengajar. Bandung: Bumi Aksara




[2] Azhar Arsyad. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar